UJIAN NASIONAL DAN KEJUJURAN Oleh : Nensy Suryati S.Pd.

 Oleh : Nensy Suryati S.Pd.

Pemerhati Pendidikan

Sekretaris harian IWM kota Batam

 

Kelulusan Ujian Nasional (UN)  tingkat SLTA telah  diumumkan. Bagi siswa yang telah lulus menguatkan ancang-ancang menuju tingkat satuan pendidikan yang lebih tinggi. Sementara yang tidak lulus kembali membuka buku pelajaran yang mungkin telah dipak rapi sebelumnya namun dibongkar kembali untuk persiapan mengikuti ujian paket C untuk tingkat SMA, dan Paket B untuk tingkat SMP. Kegagalan bukan untuk diratapi. Kegagalan UN bukan berarti kehidupan mereka juga harus berakhir, jalan ke depan masih panjang.

 

Dilihat dari presentase, kelulusan tahun ini cenderung menurun. Salah satu  penurunan bisa jadi disebabkan oleh ditambahnya mata pelajaran yang di-UN-kan. Tahun lalu hanya tiga mata pelajaran yang yang di-UN kan , baik SMP maupun SMA yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika Untuk SMA IPA dan SMP, dan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Ekonomi untuk SMA IPS. Tapi tahun ini Menjadi 6 mata pelajarantingkat SMA. Dan 4 untuk SMP. Untuk SMA IPA dengan tambahan mata pelajaran Fisika, Kimia, dan Biologi, SMA IPS ditambah Matematika, Sosiologi, dan Geografi, dan satu tambahan untuk SMP yakni mata pelajaran IPA.

 

Untuk tingkat SMA, SMK dan MA di Kepri, dari 10.812 siswa yang mengikuti UN, 863 dinyatakan tidak lulus. Presentase kelulusan menurun 0.59% dari tahun lalu. Sementara untuk tingkat SMP dan MadrasahTsanawiyah (MTs) dari 15.953peserta UN 2.689 siswa dinyatakan tidak lulus. Banyaknya siswa yang tidak lulus perlu menjadi evaluasi berbagai pihak khususnya elemen-elemen yang berkaitan erat dengan pendidikan. Apakah gurunya tidak qualified, apakah sistemnya yang tidak benar, apakah manajemen pendidikannya yang tidak kompeten, atau kurikulumnya yang tidak dijalankan sebagaimana yang digariskan.

Khusus bagi penulis, kali ini tidak mau mengupas dan mengulas mengapa mereka tidak lulus, tapi lebih mempertanyakan ”Bagaimana mereka bisa lulus?” Jawaban untuk ini cukup beragam. Ada siswa yang lulus murni karena kepintarannya, kerajinannya, dan ada yang lulus bukan karena kemampuannya. Mengapa demikian?

 

Dari investigasi penulis terhadap beberapa siswa peserta ujian ataupun terhadap guru-guru pengawas silang, diduga telah terjadi praktik-praktik ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN tahun ini. Beberapa faktor logis yang disinyalir mendukung terjadinya ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN tersebut antara lain:

 

Pertama, Pengaturan pengawas silang murni untuk sekolah negeri,  guru sekolah A ke sekolah B dan Guru sekolah B ke sekolah A (meski disisip dengan segelintir guru swasta) sangat memungkinkan sekali terjadinya praktik kongkalikong antar sekolah. Bisa saja Kepala Sekolah A mewewanti-wanti guru-gurunya yang akan mengawas di sekolah B untuk melaksanakan ’prosedur’ yang berlaku. Begitu pula sebaliknya.  Bahkan dari keterangan beberapa guru pengawas silang yang penulis dapatkan, mereka tidak perlu mengelem atau mengelak amplop jawaban. Padahal itu adalah bagian dari tugas pengawas atau tugas panitia di depan pengawas. Ada apa dengan ini?

 

Kedua, dari sisi murid, meskipun dalam aturan tidak dibenarkannya siswa membawa hand phone saat ujian berlangsung, masih banyak siswa yang mengaku membawa HP dan bisa sharing jawaban dengan siswa lain. Ini mungkin efek dari pengawasan yang kongkalikong tadi, atau karena ketidakjelian pengawas.

 

Ketiga, adanya satu orang pengawas independen di tiap satu sekolah tidak cukup mampu mengawasi banyaknya siswa peserta ujian dengan banyaknya ruang ujian. Pegawas independen hanya punya sepasang mata yang jangkauannya terbatas yang tidak tembus tembok dari kelas ke kelas lain, sehingga ia harus ’jalan-jalan’ mengawasi ujian. Konsekuensinya, ketika ia ke ruang 1,  ruang 2 dan ruang lainnya luput dari pengawasan, dan ketika ia ke ruang 2, giliran ruang 1 dan  ruang lain yang luput dari pengawasan. Demikian seterusnya. Jika ruang ujian hanya satu atau dua ruangan saja, tidak masalah. Kenyataannya  ruang ujian dibeberapa sekolah negeri maupun swasta bisa mencapai sepuluh bahkan belasan.

 

Keempat, Kurang mengakarnya penanaman iman siswa terhadap nilai-nilai kejujuran. Didukung oleh kurangnya persiapan dan rasa percaya diri, kebiasaan  prilaku ’nyontek’ bagi seorang siswa, menjadi prilaku tidak jujur yang akan  terbawa pada pelaksanaan UN. Apalagi didukung oleh tiga faktor di atas. Sebaliknya, bagi siswa yang menjunjung tinggi nilai kejujuran tidak akan mudah terpengaruh oleh ketiga faktor di atas .

 

Kalaulah tinggi tingkat kelulusan namun siswa-siswa tersebut dipengaruhi keempat faktor di atas berarti siswa lahir dari suatu poduk pembohongan, maka celakalah masa depan bangsa. Tidaklah heran jika negara kita akan terus meng-hire tenaga-tenaga asing yang qualified dengan cost yang jauh lebih tinggi sementara disekitar kita banyaknya lulusan yang pengangguran. Sekalipun dapat pekerjaan, diyakini akan diiringi mental-mental korupsi yang telah mengakar dari kebiasaan tidak jujur.

 

Tujuan pembelajaran sebenarnya bukan hanya sekedar pencapaian nilai untuk kelulusan namun memerhatikan empat pilar kesejagatan yang dicanangkan UNESCO yaitu: learning to to know (belajar untuk mengetahui) learning to do (belajar untuk berbuat), learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) dan learning to live together (belajar untuk dapat hidup dalam kebersamaan), sehingga lulusan-lulusan kita bisa exist dalam pesaingan global ditingkat satuan pendidikan yang lebih tinggi maupun berbagai bidang pekerjaan nantinya.

 

Terakhir dari tulisan ini, penulis menyatakan salut bagi siswa-siswa yang lulus dengan mengedepankan kejujuran. Siswa yang merefleksikan  learning to be, siswa yang memegang teguh prinsip untuk menjadi diri sendiri. Disamping itu juga salut pada sebuah sekolah swasta terkenal di Batam yang  berani memberikan pengawasan berlapis sampai menggunakan CCTV terhadap pelaksanaan Undi sekolah tersebut, baik untuk tingkat SD, SMP, sampai SMA demi kejujuran dan pengharaman budaya cheating. Sekolah yang berani memanggil siswa dan pengawas hanya karena seorang siswa terangkap CCTV menoleh kiri kanan secara tunggal, artinya tingkah laku siswa tersebut tanpa ada respon siswa lain yang mungkin menjadi ’mitranya’

Mudah-mudahan dalam pelaksanaan UN ke depan nanti, nilai kejujuran semakin menjadi perhatian kita semua. Demi membagun generasi bangsa yang intelektual dan berakhlak mulia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: