Mewujudkan Masyarakat Madani oleh Ir.H.Suparman,SH,M.Si

Inti utama agama diyakini sebagai ajaran hidup kemanusiaan universal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana telah disampaikan para nabi dan rasul yang dibangkitkan Tuhan untuk setiap umat.  Ajaran universal itu merupakan wujud rahmad Tuhan kepada seluruh alam dan menjadi ajaran kasamaan (kalimat sawa’) atau titik temu semua agama (Q 3 : 64).  Dalam Kitab Suci juga disebutkan bahwa ajaran universal itu adalah jalan hidup atau Syariah yang diajarkan dalam semua agama, sama seperti yang telah diajarkan Tuhan kepada nabi Nuh, Nabi Muhammad, serta kepada Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa.  Karena itu ajaran kepatuhan kepada Tuhan harus ditegakkan dan umat manusia tidak dibenarkan bertikai dalam ajaran itu, suatu hal yang amat berat dan sulit dipahami oleh mereka yang tidak berpaham Ketuhanan Yang Maha Esa atau Tauhid, yaitu kaum musyrik-(Q 42 : 13).  Untuk dapat menangkap ruh ajaran universal itu, manusia harus beriman kepada semua kitab suci serta semua nabi dan rasul, tanpa membeda-bedakan salah seorang pun dari mereka, dengan sikap semuanya berserah diri (ber”islam”) kepada Tuhan dalam semangat kedamaian (salam)-(Q 2 : 13).  Oleh karena itu, Alquran menegaskan bahwa para pengikut semua nabi dan rasul adalah umat yang tunggal dan semua mereka tidak menyembah kecuali Tuhan Yang Maha Esa-(Q 21 : 92).  Maka diingatkan agar kita tidak bertikai dengan para penganut kitab suci, kecuali terhadap yang zalim dari kalangan mereka.  Kita diwajibkan percaya kepada ajaran semua kitab suci itu, sebab tuhan bagi bagi semuanya adalah Tuhan yang sama.  Yang Maha Esa, dan semuanya ber-isla, tunduk-patuh kepada Tuhan dalam semangat kedamaian, yaitu salam-(Q 29 : 46).

Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa agama para nabi itu satu dan sama, dan para nabi adalah “bersaudara tunggal bapak lain ibu”-(Hadist). Yaitu bahwa mereka berpijak pada ajaran pokok yang sama, sekalipun mungkin berbeda-beda dalam jalan dan cara pelaksanaan ajaran pokok itu, sesuai dengan tutuntan khusus ruang dan waktu.  Karena itu, kitab suci juga menegaskan bahwa Tuhan telah menetapkan syir’ah (jalan) dan minhaj (cara) yang berbeda-beda untuk setiap golongan umat manusia, sesuatu yang tudak dibenarkan menjadi bahan pertikaian, tetapi justru harus mendorong                                                                                              perlombaan menuju kepada berbagai kebaikan.  Sebab, wewenang untuk menjelaskan mengapa terjadi perbedaan itu di antara manusia hanya ada pada Tuhan, kelak jika umat menusia telah kembali kepada-Nya-(Q 5 : 48).

Oleh karena itu, masing-masing golongan, dalam semangat kerinduannya kepada sentralitas, punya arah sendiri ke mana mereka menghadap, yag semua itu juga tidak perlu menjadi bahan pertengkaran, melaikan hendaknya juga menjadi pendorong terjadinya perlombaan menuju kepada berbagai kebaikan-(Q 2 : 148).  Sebab, Tuhan adalah Pemilik timur dan barat, Pemilik dua timur dan dua barat, Pemilik semua timur dan barat, yakni, Pemilik segenap penjuru angin, sehingga kemanapun kita mengahadap di sana ada wajah Tuhan-(Q 2:152; 55:17; 70:40).  Dan, kebajikan tidaklah merupakan sikap menghadap ke timur ataupun ke barat dalam sikap kesalehan lahiri, melainkan ada dalam tindakan dan amal nyata, dimulai dengan keimanan kepada Tuhan sebagai dasar dan pangkal tolak, diteruskan kepada keteguhan menepati janji antara sesama manusia dan ketabahan hati dan jiwa dalam menempuh jalan hidup yang sulit, yang penuh dengan tantangan dan rintangan-(Q 2 : 177).  Kita semua menyakini adanya inti ajaran universal itu.  Kita semua berpegang kepada petunjuk Tuhan bahwa kita harus beriman kepada semua kitab suci dan semua nabi yang telah dibangkitkan Tuhan pada setiap umat (Q 16 : 36).  Kita beriman kepada kitab suci manapun juga, yang semua para pengikut agama itu harus diperlakukan secara adil, sebab pada dasarnya mereka meyembah Tuhan yang sama, dengan masing-masing betanggung jawab atas amal-perbuatan mereka sendiri yang tidak perlu menjadi bahan pertengkaran, karena kelak kita sekalian akan kembali kepada Tuhan, dan Tuhanlah yang akan menentukan benar- salah serta baik-buruk segala amal-perbuatan itu-(Q 42 : 15).

Karena itu, kita percaya bahwa kearifan ada di mana-mana, dan kita harus mencarinya      “meskipun ke Negeri Cina”-(Hadist).  Sebagai suri teladan umat manusia, Nabi Muhammad SAW telah memberi contoh bagaimana mewujudkan semangat Ketuhanan Yang Maha Esa yang bersambungan langsung dengan wawasan sosial-sosial keagamaan dan politik yang berjiwa paham kemajemukan (pluralis) dan yang serba meliputi (inklusif) itu dalam Masyarakat Madinah. Sebagai yang terakhir dan yang menutup deretan panjang para pembawa ajaran Ilahi untuk umat manusia, Nabi Muhammad SAW dengan madinah-nya telah mewariskan suatu model, bagaimana mengatur masyarakat serta menyelesaikan persoalan penyelenggaraan pemerintahan dan penggunaan kekuasaan yang benar-benar secara utuh dan memenuhi dambaan lahir dan batin manusia: tidak lahir saja seperti yang sedang kita rasakan di zaman yang menurut Rene’ Guenon (Abdul Wahid Yahya) terbelenggu oleh “kedaulatan kuantita” sekarang ini; tetapi juga tidak batin saja melupakan yang lahir, suatu pandangan hidup yang tidak adil kepada fitrah kepada diri manusia sendiri dan tidak sejalan dengan kebaikan Tuhan yang telah menciptakan manusia dalam keutuhan jiwa-raga, lahir-batin.  Sebagai model penyelenggaraan pemerintahan dan penggunaan kekuasaan, Madinah Nabi itu dalam penilaian Robert N Bellah, seorang ahli sosiologi medern dengan otoritas yang sangat tinggi, merupakan model yang sangat modern untuk zaman dan tempatya.   

Masyarakat Madinah itu sangat modern dilihat dari tingginya tingkat komitmen, keterlibatan, dan partisipasi seluruh jenjang anggota masyarakat.  Masyarakat Madinah itu juga modern karena kedudukan kepemimpinannya yang terbuka untuk kemampuan yang diuji atas dasar pertimbangan universal dan dilambangkan dalam percobaan melembagakan kepemimpinan tertinggi tidak berdasarkan keturunan.  Akan tetapi, Masyarakat Madinah itu tidak betahan lama, sebab saat itu, menurut Bellah, belum ada prasarana sosial dan kultural untuk menopangnya.  It was too modern to succeed, kata Bellah.  Pelembagaan kepemimpinan tertinggi berdasarkan pemilihan (umum) berhenti sekitar 40 tahun setelah wafat Nabi, karena Khalifah Mu’awiyah yang menjalankan kekuasaan dari Dasmaskus pada tahun 51 hijri menunjuk anaknya sendiri, yazid sebagai pengganti. Meskipun ditentang oleh para pemuka masyarakat di madinah dan Mekkah sebagai tradisi kaisar Romawi dan khusro Persi yang bertentangan dengan tradisi Nabi dan para Khalifah Rasyidun, namun Mu’awiyah berjalan terus dengan keputusannya, dengan mengandalkan kekuatan fisik militer.  Dunia Islam mengalami perubahan fundamental dari masyarakat yang menempatkan pemimpin tertinggi melalui pemilihan menjadi masyarakat yang mengenal hanya kekuasaan dinasti geneologis, kepemimpinan berdasarkan pertalian darah.

Sejak itu, sumber utama legitimasi politik ialah keturunan dan masyarakat tanpa sadar menyimpang dari salah satu prinsip sosial-politik Madinah, terdorong untuk berlomba-lomba saling unggul dalam hal garis keturunan dan silsilah.  Suatu perubahan yang merupakan gerak kembali ke faham klan dan kesukuan Jahiliah itu pada banyak kalangan masyarakat Islam masih bertahan sampai sekarang.  Penyimpangan itu telah menjadi pangkal berbagai kesulitan dan bencana dunia Islam, karena faham dinasti geneologis itu tanpa dapat dihindarkan disusul dan disertai oleh kezaliman despotik, otoriter dan totaliter di bidang sosial, politik, keagaman, dan seterusnya.  Masyarakat Madinah  Nabi itu, menurut Martin Lings, merupakan solusi Ilahi paling akhir bagi persoalan pemerintahan (The most recent of providence’s solutions to the problem of government).  Masyarakat Madinah itu memang tidak berlangsung lama.  Namun berkat pencatatan yang rinci oleh para ulama, sarjana, dan kaum ahli, seperti dikatakan martin Lings Masyarakat Madinah itu sampai sekarang tetap menjadi idaman, teladan dan pedoman.  Semangat meneladani kembali Madinah itulah yang sampai sekarang memenuhi alam pikiran dan menjiwai sepak terjang kaum muslim yang sadar.  Sebab, sejalan dengan penilaian Bellah, Madinah menjadi contoh komunitas nasional modern dan menjadi tipe nasionalisme partisipatoris egaliter.  Maka jika kaum Muslim sampai sekarang tetap memandang contoh Madinah dengan penuh minat dan keyakinan, menurut Bellah, hal itu sama sekali bukanlah fabrikasi ideologis yang tidak historis.  Walaupun begitu, dalam kenyataan sekarang ini, tidak mungkin mengingkari adanya salah paham yang negatif oleh sebagian kaum Muslim sendiri terhadap wawasan prinsipil Madinah, kemudian lebih-lebih lagi oleh orang lain di luar Islam.  Disertai dengan keterbatasan kemampuan menggali kembali ajaran suci, khazanah kebudayaan dan sejarah, kesalahpahaman itu mendasari kemunculan dan penampilan sebagian masyarakat kita yang tidak produktif, bahkan kontraproduktif.

Oleh karena itu, terdapat keperluan mendesak untuk menggali dan memahami kembali semangat Madinah itu dan menjabarkannya dalam kehidupan sedemikian rupa, sehingga ajaran kebenaran betul-betul menjadi wujud rahmad dan kasih sayang Tuhan kepada seluruh umat manusia.  Ditarik relevansinya dengan masa sekarang, wawasan Madinah harus dikemukakan kembali sebagai tawaran tentang suatu sumber usaha mencari penyelesaian bagi permasalahan zaman modern.  Hampir-hampir telah menjadi klise dan ucapan stereotipikal bahwa zaman modern telah berjalan pincang, karena kuatnya kedaulatan kuantitas alias kehidupan kebendaan dan lemahnya dimensi kualitas alias kehidupan kerohanian.  Memang “urusan dunia” (umur al-dunya) harus dikerjakan menurut hukum-hukum alamiahnya sendiri, sebagaimana ditetapkan Allah dan Sunnah-Nya.  Tetapi, “urusan dunia” yang sudah dikerjakan dengan cara seharusnya itu jika tidak disertai atas taqwa dan ridho Tuhan, akan berkembang menjadi tidak lebih daripada fatamorgana yang tidak menjanjikan apa-apa selain bayangan palsu.

Maka keunikan masyarakat Madinah tidak hanya segi pluralisme dan inklusivismenya semata.  Keunikan masyarakat Madinah ialah bahwa semua itu, serta semua sendi kehidupan sosial-politiknya didasarkan pada azas taqwa dan ridho Allah, yaitu asa Ketuhan Yang Maha Esa dalam arti yang sebenar-benarnya.  Dalam peta luas krisis dunia modern inti krisis pluralisme demokratis berpangkal pada pandangan bahwa ide-ide pokok yang mendasari keabsahan faham pluralisme demokratis itu disingkirkan dari wacana umum, apalagi jika ide-ide pokok itu bersumber pada ajaran keagamaan dan dijabarkan dalam semangat keagamaan.  Dalam masyarakat kita terdapat ketakutan luar biasa pada wacana kehidupan sosial umum yang bersifat keagamaan, dan sering diajukan argume bahwa kita tidak mungkin bertanya dengan sungguh-sungguh apa makna keadilan atau dasar metafisis hak-hak asasi.  Dengan alasan bahwa kita adalah masyarakat majemuk.  Tetapi sebenarnya, kemajemukan serupa itu tidaklah sejati, karena ia menegaskan bahwa kita tidak mungkin melibatkan diri satu sama lain pada titik-titik perbedaan yang ada pada kita.  Mungkin kita harus mengingatkan diri kembali bahwa apa yang sekarang ada di Amerika yang disebut “demokrasi sekuler” pun tumbuh dari bibit-bibit perenungan keagamaan yang mendalam, yang dibawa oleh para imigran dari Eropa ke Amerika seperti yang kelak disana diwakili oleh pandangan-pandangan George Washinton, Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, John Adams serta (anaknya) John Quincy Adams, Alexander Hamilton, James Madison, dan lain-lain.  Sebagian dari mereka itu, seperti Thomas Jefferson dan Alexander Hamilton, memang mengaku tidak beragama formal atau beragama dalam arti menganut Deisme.  Unitarianisme, dan Universalisme.  Tetapi mereka juga sekaligus mengaku bahwa dalam hal wawancara moral dan etika pribadi dan sosial, mereka peroleh dasar-dasar metafisisnya dalam ajaran-ajaran Isa al Masih yang bagi mereka adalah guru agung budi pekerti luhur.  Mengingat dasar Ketuhanan Yang Maha Esa yang kita pegang teguh, gejala dari menghindari dari wacana umum keagamaan tersebut seharusnya tidak pernah terjadi.  Dalam semangat kemajemukan sebagaiman dikukuhkan dalam motto Bhineka Tunggal Ika, kita harus berani melangkan lebih jauh dari pada sekedar pengakuan pasif tentang adanya kemajemukan itu sendiri dan harus memasuki arena pada pelibatan umum langsung dalam kemajemukan itu, dengan kesabaran positif tentang adanya lingkungan batas-batas keadaban.  Jika tidak demikian, maka jargon kemajemukan akan menjerumuskan kita ke dalam jebakan netralisme prosedural yang hampa makna.

Memang dalam keadaan aneka ragam hakikat kebangsaan kita yang demikian besar, sulit sekali bagi kita menemukan kesempatan penuh dalam segala hal.  Tetapi, setidaknya kita harus berusaha dengan cukup kesungguhan untuk menemukan kosa kata yang sama atau mendekatkan satu sama lain dalam pandangan hidup umum.  Hal itu berarti bahwa masing-masing harus berusaha menemukan dalam khazanah budaya atau sejarahnya sesuatu yang secara metafisis memperkuat wawasan bersama dalam kehidupan umum itu, dengan menggali kembali bibit-bibit atau potensi-potensi dalam khazanah itu, bukan sekedar perubahan-perubahan eksternalnya,; mempelajari kembali contoh-contoh sejarah, bukan sekedar pengalaman-pengalaman kontemporer.  Kemudian semuanya itu diangkat ke daratan generalisasi yang cukup tinggi, sehingga menjadi sifat universal-inklusif, berlaku untuk semua; tidak bersifat partikular-ekslusif, yang berlaku hanya untuk golongan khusus tertentu semata.  Maka, jika ada sesuatu yang dapat ditemukan dengan cukup mantap untuk Universitas Paramadina ialah kita Insya’Allah hendak ikut berusaha sebaik-baiknya untuk memberi sumbangan kepada masyarakat dan bangsa dalam memperkembangkan wawasan Madinah menurut pengertiannya yang benar dan otetik.  Dikaitkan dengan perkembangan global yang menyangkut bangsa kita saat ini sekarang wawasan Madinah itu bersambung langsung dengan perjuangan mengembangkan masyarakat madani, civil society.  Seorang pejuang civil society yang mencatat keberhasilan gemilang ialah Vaclav Havel.  Cendikiawan (saat itu) Cekoslowakia yang kemudian menjadi presiden itu mengambarkan masyarakat madani sebagai masyarakat yang dijiwai oleh “cita rasa baik” (good ststes), yang merupakan manifestasi nyata kepekaan manusia kepada dunia, lingkungan dan rakya.  Havel berpikiran menuju ke arah terbentuknya semacam masyarakat madani global, yang menekankan kembali nilai-nilai yang tidak sering dikembangkan dalam politik dunia sekarang ini, yaitu keadaban, cita rasa baik, kejujuran dan diatas semuaya, rasanya tanggung jawab.

Pengertian civil society Havel itu mengarah kepada pengertian kemanusiaan suci primordial yang lebih menyeluruh, yaitu fitrahnya dari Tuhan.  Dengan fitrah kesucian yang memancar dalam pola kehidupan umum itu, masyarakat Madinah menjadi tolokukur peradaban, sehingga peradaba atau civilization adalah madaniyah, dan yang beradap atau civil adalah madani.  Pandangan hidup madaniyah dan wawasan madaniyah itu merambah dan meluas untuk meliputi seluruh bagian kehidupan sosial dan politik.  Dalam keseluruhan segi kehidupan itu, pandangan hidup madaniyah dan wawasan madanuyah memperoleh manifestasinya yang paling kuat dalam perperangan dalam keadaan perang pada umumnya.

 

****

 

KITAB suci memperingatkan kita bahwa salah satu wujud keutamaan budi ialah sikap teguh dan tabah dalam penderitaan, kesusahan, dan masa-masa sulit-(Q 2 : 177).  Maka perperangan harus ditujukan hanya kepada mereka yang bertindak agresif, dengan keteguhan jiwa dan sikap menahan diri, menghindari tindakan melewati batas, karena Allah tidak suka pada orang-orang yang melewati batas-(Q 2 : 190).  Apalagi perperangan yang beradap itu memang diizinkan hanya untuk membela diri dan bersama dengan itu juga untuk melindungi peradapan umat manusia, lebih-lebih peradaban keagamaan yang diwujudkan dalam pranata-pranata suci seperti biara, gereja, sinagog, dan mesjid sebagai tempat-tempat banyak diangungkan nama Tuhan, dan dikembangkan nilai-nilai keagamaan-(Q 22 : 40).  Oleh karena itu, ketika khalifah Abu Bakar RA mengirim sebuah ekspedisi pembebasan, ia berpesan kepada komandannya, Yazid Ibn Abi Sufyan, dengan sepuluh nuktah budi luhur dalam perperangan, yaitu “jangan membunuh perempuan, anak-anak dan orang lanjut usia; jangan memotong pohon berbuah, meruntuhkan bangunan, membunuh binatang seperti kambing dan unta kecuali jika hendak dimakan; serta jangan merobohkan pohon kurma, dan jangan membakarnya; janganlah bersifat kikir, dan jangan pula curang”-(Imam Malik dalam Al-Muwatta’).  Berkaca kepada petunjuk-petunjuk keagamaan itu, kita dapat merasakan betapa mendesakanya saat-saat ini untuk menggali, menyadari, dan meladani Masyarakat Madinah warisan Nabi.  Wawasan Madinah itu sepenting-penting Sunnah Nabi yang harus dihidupkan kembali.  Dan wawasan Madinah itu pulalah sesungguhnya wujud utama Syari’ah- yang juga diwasiatkan Allah kepada semua nabi dan rasul yang wajib dilaksanakan dengan penuh keteguhan hati dan dan istiqomah.  Khususnya dengan peradaban kemanusiaan yang berpangkal pada ajaran kesucian manusia serta harkat dan martabatnya sebagai puncak ciptaan Tuhan dan yang Tuhan sendiri memuliakannya didaratan maupun dilautan (Q 17 : 70).  Oleh karena itu, kejahatan kepada seseorang adalah kejahatan kepada kemanusiaan universal dan kebaikan kepada adalah juga kebaikan kepada kemanuasiaan universal.  Sebab “barang siapa membunuh seorang jiwa tanpa alasan kejahatan pembunuhan atau tindakan merusak dibumi, maka bagaikan ia membunuh umat manusia seluruhnya; dan barang siapa menghidupi seorang jiwa, maka bagaikan ia menghidupi umat manusia seluruhnya”(Q 5 : 32).

Nilai-nilai Madinah itu diringkaskan dalam wasiat terakhir Nabi yang beliau sampaikan dengan seluruh ketulusan jiwa beliau dalam Pidato Perpisahan (khutbah al-wada), dengan inti pesan kesucian hidup, harta, dan harkat manusia (al-dima wa al-amwal wa al-a radl-“lives, property, diwahyukan kepada nabi bahwa Allah telah menyempurnakan agama umat manusia dan melengkapkan rahmad karunia-Nya, serta menyatakan Agama Islam telah mendapat ridho atau perkenan-Nya.  Inti wasiat nabi itu diterima dengan tulus oleh seluruh kaum beriman, dan dilaksanakan hampir-hampir secara taken for granted, tanpa masalah.  Inti wasiat nabi itu menyebar ke kalangan umat-umat lain, dan tidak lama setelah terjadi kontak dunia Eropa dan dunia Islam akibat Perang Salid, inti wasiat Nabi itu merembes ke Eropa dan mempengaruhi perjalanan masyarakat di sana melalui falsafah kemanusiaan Giovani Pico della Mirandola.  Bangsawan sekaligus hartawan dan ilmuwan dari Italia itu pada tahun 1486 menyampaikan orasi tentang harkat dan martabat manusia (Oratio de hominis dignitate-“Oration on the Dignity of  Man”) didepan kaum intelektual Eropa yang ia undang ke Roma.  Diawali oleh falsafah kemanusiaan Pico pada akhir abad ke-15 itu, ide hak-hak asasi manusia mulai berkembang di Eropa, yang sampainya ke tangan John Locke hak-hak itu dirumuskan sekitar kesucian “hidup, kebebasan, dan harta” (“life, liberty, and estate” atau “property”).  Pandangan-pandangan John Locke banyak mempengaruhi alam pikiran para bapak pendiri Amerika Serikat, khususnya mereka yang menganut Deisme, unitarianisme dan universalisme.  Dan, melalui pena Thomas Jefferson yang amat fasih, kita mendapat dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika rumusan nilai-nilai kesuciaan manusia sekilas “life, liberty, and pursuit of happiness”, yang pada kalimat terkhir Deklarasi itu rumusannya ditegaskan sebagai “lives, fortunes, sacred honor;, persis seperti frasa Nabi dan Pidato Perpisahan.  Sekarang nilai-nilai hak asasi manusia itu telah menjadi khazanah universal umat manusia. Namun berkenaan perlanggaran terhadap hak-hak azazi itu, apa yang kita saksikan di atas panggung sejarah dunia selama paling tidak sekitar setengah abad terakhir ini adalah tindakan-tindakan kejahatan kemanusiaan yang paling buruk selama bumi terbentang : sejak genosida dan holokos di Eropa, terus ke bom atom di Jepang, dilanjutkan dengan bombardemen napalm atas Vietnam, pemberondongan senapanmesin terhadap orang-orang tak berdosa sewaktu mereka sembahyang dalam mesjid Hebron di Palestina, dan seterusnya sampai tak terhitung lagi, hingga akhirnya tidak lama yang lalu peristiwa tragis 11 September di Amerika.  Dan, kembali ke Tanah Air kita sendiri, hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang tindakan kekejaman kemanusiaan yang memberi kesan, betapa murahnya harga nyawa manusia dibagian bumi ini.  Juka kita perhatikan berbagai bentuk kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Tanah Air, jika kita bertanya-tanya, kemanakah gerangan dasar negara “Perikamanusiaan yang adil dan beradap” itu pergi dan lenyap dari kesadaran kehidupan kita berbangsa dan bernegara? Perikemausiaan adalah prinsip kita dalam kehidupan berbangsa dan bangsa yang melanggar prinsipnya sendiri tidak akan bertahan (a nation against its own principle will never stand)! Sudah tentu kita dapat memperkirakan apa sebab musababnya.  Yaitu terjadinya pembangunan bangsa yang tertunda pada negara kita, akibat deretan panjang beberapa kebijakan nasional pemerintah dalam sejarah Republik kita yang sebagianya salah arah dan menyimpang dari tujuan kita bernegara, “menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat”.

Tekanan yang terlalu berat kepada pembangunan ekonomi namun tidak disertai pembangunan etika dan moral pribadi dan sosial melalui keteladanan para pemimpin, telah menjerumuskan sebagian anggota masyarakat kita kepada pandangan hidup hedonistik, enak-kepenak, dengan obsesi bagaimana mengumpulkan kekayaan pribadi sesingkat-singkatnya dan semudah-mudahnya, menempuh jalan pintas tanpa peduli kepada hukum serta norma-norma etika dan moral.  Ditengah kemiskinan dan penderitaan rakyat yang mencekam, ada segolongan masyarakat kita yang fasiq, yang dengan penuh kebanggaan memamerkan kekayaan dan kemewahan.  Akibatnya ialah tumbuhnya jurang perbedaan yang menganga antara golongan kecil yang kaya dan super kaya denagn rakyat umum yang melarat hidup nestapa! Inilah perlawanan prinsipil terhadap azas keadilan sosial! Inilah kezaliman yang menjadi pemicu segala rupa tindakan perusakan akibat kekcewaan dan putus asa.  Iilah tanda zaman bagi hancurnya sebuah bangsa, dengan akibat-akibat mengerikan yang saat ini belum bisa diperkirakan.  Dilihat dari sejarah perkembangan konsep-konsepnya, memang bangsa kita sekarang ini dapat dikatakan masih ditegah proses pertumbuhan dan penjadiaanya.  Indonesia adalah suatu negara yang menjadi a nation in making.  Sejak para pembangun kebangsaan modern memulai gagasan mereka awal abad yang lalu, proses pemcarian akan hakikat kebangsaan kita telah bersemi.  Mula-mula mereka meminjam istilah ilmu sosial dan kebahasaan “Indonesia” buatan ilmuwan Jerman Adolf Bastian (1864)  untuk menjadi alat identifikasi dan nama bagi keseluruhan bangsa yang mereka dambakan.  Kemudian mereka mengangkat bahasa Melayu dialek Riau sebagai bahasa persatuan bagi seluruh unsur kebangsaan yang beraneka ragam, suatu bahasa yang telah tumbuh sejak zaman sriwijaya dan menjadi lingua franca Austronesia, yang kemudian dikembangkan oleh Aceh menjadi bahasa literer, dan mengalami pembakuan klasik di Riau dengan kontribusi dari banyak tokoh yang berasal dari berbagai suku, dan akhirnya digarap lebih lanjut oleh para cendikiawan modern, khususnya di Sumatera Barat.  Kini kita mewarisi sebuah bahasa modern, Bahasa Indonesia.  Inilah aset kebangsaan kita yang paling penting, paling nyata, dan paling menentukan.

Dan, jika kita punya cukup alasan bahwa bangsa kita tidak akan pecah berantakan, sebagian besar adalah karena suksesnya kita mengembangkan bahasa nasional itu, paling sukses diantara semua-semua bangsa baru yang muncul setelah Perang Dunia II.  Akan tetapi, alasan optimisme berdasarkan adanya bahasa persatuan tentu tidak akan menjadi jaminan mutlak.  Yang akan lebih menjamin masa depan kita adalah pelaksaan sungguh-sungguh tujuan negara menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, dan penerapan yang bijak dan konsekuen prinsip kemajemukan dalam semangat Bhineka Tunggal Ika.  Keadilan sosial adalah lebih kurang pedanan pemerataan.  Dan kemajemukan adalah lebih kurang padanan pengakuan dan peberian ruang berbagai golongan dan daerah untuk pengembangan diri menurut pandangan dan pola budaya masing-masing, dalam bingkai kesatuan keindonesiaan.  Tetapi, yang sekarang ini kita saksikan dan alami adalah warisan gejala kesenjangan diberbagai bidang kehidupan, khususnya kesenjangan ekonomi berupa jurang pemisah kelompok kecil yang kaya dan rakyat umumnya yang miski, yang dalam gabungannya dengan kesenjangan dibidang penyelenggaraan pemerintahan dan pengembangan wilayah, kita menyaksikan jurang pemisah yang sedemikian lebar antara pusat dan daerah.

Nafsu memusatkan kekuasaan pada kalangan elite terbatas telah mendorog terjadinya proses sentralisme dan sentralisasi yang sangat berlebihan dibidang politik, sosial, ekonomi, dan seterusnya.  Akibat negatif sampingannya ialah hilangnya kemampuan mengambil inisiatif dari bawah, baik pada tingkat perorangan maupun pada tingkat kelompok dan wilayah.  Karena telah terbiasa dengan proses-proses top down dalam kehidupan nasional, sebagian besar masyarakat tumbuh dalam mentalitas selalu menunggu penyeleaiaan dari atas, suatu betuk “botte-feeding effect”.  Namun, akhirnya syukur kepada Tuhan, bangsa kita mulai bergeser dari tigkat “ a nation in making” naik ke tingkat “a nation comin of age”, suatu bangsa yang sedang berkebang menuju ke tingkat kedewasaan.  Pandangan yang bernada penuh harapan itu didasarkan pada keberhasilan gerakan Reformasi yang telah membuahkan berkah kepada bangsa kita berupa kebebasan-kebebasan sipil (civil liberties), yaitu kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan berkumpul, dan kebebasan berserikat.  Dan yang langsung terkait dengan lembaga ini, lembaga pendidikan tinggi, ialah kebebasan akademik.  Seperti halnya kebebasan berbicara, kebebasan pers, dan kebebasan beribadat, kebebasan akademik adalah karakteristik esensial masyarakat demokratis.  (Academic freedom ranks with freedom of speech, freedom of the press, and freedom of worship as an essential characteristic of democratic society).

 

Civil liberties itulah asset teramat penting bangsa kita dalam tahap perkembanganya sekarang ini.  Itulah tumpuan harapan paling utama bahwa bangsa kita akan mampu mewujudkan cita-citanya, yaitu terwujudnya keadilan bagi seluruh rakyat, dalam bingkai sebuah negara kebangsaan modern yang berdaulat (sovereign modern nation state).  Dengan kebebasan-kebebasan sipil itu dalam masyarakat kita dapat diharapkan akan berkembang mekanisme pangawasan dan pengimbangan (checks and balances), yang membuat semua kegiatan dan kenyataan oleh siapapun dan menyangkut siapapun tidak akan terbiarkan berlangsung dengan merugikan warga masyarakat,  karena semuanya akan terbeber dalam wacana umum dan bebas.  Dan dengan civil liberties itu proses-proses dalam masyarakat yang menyangkut kehiddupan umum akan berlangsung transparan, accountable, dan auditable.  Juga dengan adanya, civil leberties itu, kita Insya ‘Allah menyaksikan tumbuhnya kemampuan mayarakat luas untuk ambil inisiatif-inisiatif, yang akan mendorong produktifitas mereka. Dan dibidang ilmu pengetahuan, kita akan juga Insya ‘Allah menyaksikan perkembangan kreativitas ilmiah umum, sehingga akan besar sekali peranannya dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia kita. Sudah saatnya kita segera  mengakhiri praktik-praktik kejahatan sosial sepertti korupsi dan bentuk-bentuk penyelewengan harta publik lainnya.  Dengan modal civil liberties kita harus menyingsingkan lengan baju, cancut tali wondo, memulai kehidupan nasional baru yang lebih serius, lebih sungguh-sungguh, lebih terarah, dan berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nasional “sekali dan untuk selamanya” (once and for all), Insya ‘Allah.

Namun, untuk itu kita harus mulai dengan sungguh memperjuangkan nasib rakyat.  Sebagian dari mereka telah tertindas sejak zaman kolonial dan dalam zaman kemerdekaan pun mereka selalu terkena diskualifikasi, setiap kali terjadi konsolidasi negara dan pemerintahan.  Sebabnya ialah tingkat pendidikan yang masih rendah, padahal merekalah yang paling berkorban melawan penjajah sejak mereka datang ke bagian bumi ini, dan dimasa-masa merebut kemerdekaan dan mempertahankannya.  Mereka adalah batu sudut bangunan Republik kita yang dilupakan oleh para pembangunnya sendiri (the corner stone of the house neglected by the builders).  Karena itu, mereka tumbuh dengan gumpalan rasa kecewa yang membara, yang sewaktu-wAktu dapat meledak dalam tindakan-tindakan kekerasan.  Demikian pula halnya dengan daerah-daerah, demi keadilan sosial dan demi semangat Bhineka Tunggal Ika, kita harus memberi pengakuan dan penghargaan pada semuanya dengan pelaksanaan sungguh-sungguh desentralisadi dan otonomisasi.  Sebagian daerah-daerah itu telah memainkan peranan sejarah yang amat menentukan bagi bangunya Republik, seperti Aceh yang oleh Bung Karno dengan penuh penghargaan disebut “Daerah Modal”. Namun telah sekian lama mereka merasa terabaikan, lagi-lagi adalah sebuah kasus “ the corner stone of  the house neglected by the builders”.  Banyak pula dari daerah-daerah itu yang berperan sebagai penyumbang utama kekayaan nasional, seperti Aceh, Riau, Kalimantan Timur, dan Irian Jaya.  Namun, lagi-lagi untuk sekian lama mereka diingkari, sebuah kejadian lain kasus “ the corner stone of  the house neglected by the builders”.  Kita tidak mungkin berketerusan menjalani kehidupan nasional yang penuh dengan kezoliman sosial serupa itu.  Jika kita teruskan juga, maka kezoliman sosial itulah jaminan paling pasti bahwa bangsa kita akan bubar dan negara kita akan ambruk berantakan.  Maka, tidak ada jalan lain kecuali kita bertekad memulai kehidupan nasional baru, dengan patriotisme baru, yang menuntut semua kita untuk hidup prihatin, menunda kesenangan, mengingkari diri sendiri, (self denial) dalam semangat  setia kawan kepada rakyat yang masih sangat menderita kemiskinan dan kemelaratan. Paling tidak kita memerlukan jangka waktu satu generasi untuk membangun bangsa ini, sebelum Indonesia tampil sebagai negara Demokratis ketiga terbesar dimuka bumi, sebuah masyarakat yang adil, terbuka, bebas, dan egaliter dengan ridho Allah subhanahu wa ta’ala.  Itulah wawasan masyarakat Madinnah yang harus kita junjung bersama,  masyarakat madani, civil society. Insya‘ Allah Wa’I-Lah-u a’lam-u bi al shawab.               

                                 

                 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: