Jangan Jadikan Ulama Seperti Daun Salam

     
Minggu, 18 Mei 2008
dibesarkan di lingkungan yang kenatal nuansa keislamannya membuat pria yang satu ini sangat peduli dengan penegakan amal ma‘ruf nahi mungkar. Kupingnya pun spontan panas jika mendengar ada umut muslim yang menyelewengkan agamanya demi kepentingan pribadi atau golongan. Karena menurutnya agama di atas segalanya.

Jadi tak heran kalau saat ini namanya terdaftar di puluhan organisasi kepemudaan maupun masyarakat yang berbasis keislaman. Sebut saja LPPOM MUI, Persatuan Mubaligh Batam, Badan Amil Zakat, Dewan Masjid Indonesia Batam, PHBI, MUI, Badan Wakaf dan lain sebagainya.
Karena kevokalannya dalam memperjuangkan jalan Allah SWT, ia pun kini diberi mandat sebagai Sekretaris Jendral Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) Provinsi Kepri.  

Adalah Khairuddin Nasution, Bapak tiga anak yang begitu sederhana namun memiliki semangat perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan prinsip keislaman.
Pertengahan pekan kemarin dia menerima Tim Stop!-POSMETRO berbual-bual tentang keprihatinannya terhadap umat muslim khususnya Batam yang kian hari kian memudar nilai-nilai kaidahnya. Berikut petikan wawancara itu.

Sejak kapan Anda mulai berorganisasi?
Sejak remaja saya memang sudah senang berorganisasi. Karena dengan berorganisasi saya bisa mendapat banyak pengalaman dan teman, Rasulullah SAW pernah mengajarkan kita untuk mempererat tali silaturahmi dan memupuk rasa kekeluargaan sesama umat muslim, makanya saya perbanyak pergaulan dengan menjadi pengurus berbagai organisasi Islam.

Kenapa harus yang berbasis keislaman?
Sebenarnya tidak semua, ada juga yang umum seperti KNPI, Karang Taruna dan ada lagi beberapa, tapi memang rata-rata berbasis Islam. Ini karena saya melihat masih banyak organisasi Islam yang kurang dalam menegakkan amal ma‘ruf nahi mungkar, mereka masih mementingkan kelompok atau golongan. Ini terang saja menimbulkan citra buruk bagi Islam itu sendiri. padahal seorang Islam itu adalah Rahmatin Alamin yang artinya keselamatan bagi semua umat, bukan untuk menakut-nakutkan orang lain demi kepentingan kelompok atau diri sendiri. Maka itu ketika diajak temen-temen bergabung dalam suatu organisasi saya langsung tertarik. Tujuannya bukan untuk apa-apa tapi demi merangkul saudara-saudara kita agar tidak melenceng dari kithahnya.

Kapan itu mulai Anda rasakan?
Sekitar tahun 1995 silam, saat itu saya merantau dari kampung menuju Singapura, disana saya sempat bekerja setahun, tapi entah mengapa meski pekerjaan yang saya lakukan halal namun seperti ada ganjalan di hati, makanya saya langsung ke Batam berumah tangga di sini, lalu mulai merambah organisasi keislaman.

Idealnya organisasi Islam menurut Anda seperti apa?
Mengayomi semua umat, bukan untuk menakut-nakuti. Kita memang diwajibkan untuk menegur setiap pelencengan yang terjadi, tapi bukan dengan cara menakut-nakuti. Di beberapa organisasi yang saya masuki, dan saya diamanahkan menjadi ketua, tapi tak pernah membuat proposal bantuan. Karena untuk menggerakkan suatu organisasi ini, para penguruslah yang harus menjacari dananya tentu dengan jalan-jalan yang dirihoi Allah SWT, bukan menebar proposal.

Anda juga tergabung dalam LPPOM MUI Kepri, kalau untuk organisasi ini apa target yang Anda kejar?
Saya memandang seperti ini, Batam merupakan pintu gerbang yang letaknya langsung berhadapan dengan negara tetangga. Banyak makanan atau produk-produk dari luar yang kita tak tahu kadar kehalalannya masuk dan diperjual belikan dengan bebas di sini. Itu yang membuat saya prihatin, umat muslim yang harusnya memilah-milah makanan yang akan dimakannya, eh malah hantam saja tanpa memikirkan apakah itu halal atau haram. Maka itu saya bergabung dengan tujuan saya bisa mengajak mereka mengenal setiap makanan yang akan mereka makan. Itu tentu tidak mudah, saya harus berdakwah dari masjid ke masjid, dari kelompok ke kelompok. Setiap restoran saya rangkul, saya terangkan pentingnya kehalalan dan azab yang akan diterima seorang muslim yang memberi makan saudara-saudaranya dengan makanan yang haram. Akhirnya Alhamdulillah satu persatu mereka sadar dan kini malah berlomba-lomba untuk mendapatkan sertyifikat kehalalan itu.

Apa tidak ada bantuan dari pemerintah melalui kebijakan tentang pentingnya kehalalan ini?
Alhamdulillah hingga saat ini belum. Inilah yang patut kita perihatinkan bersama. Padahal sejak tiga tahun silam kami dari LPPOM MUI Kepri telah mengajukan draf ranperda tentang kehalalan ke DPRD, tapi nyatanya hingga masa baktinya sudah mau habis, draf yang kami ajukan tak pernah digubris sedikit pun, padahal 90 persen anggota DPRD mulai dari provinsi hingga ke kota dan kabupaten beragama Islam, tapi mereka seperti mengabaikan hukum halal dan haram yang dengan tegas diatur dalam agama.

Kalau sudah begini lantas jalur apa yang akan Anda tempuh?
Menegakkan kaidah-kaidah keislaman memang tidak mudah, karena semakin dekat kita dengan Allah maka semakin besar juga godaan yang akan kita hadapi. Tapi jika kita tekad sudah bulat Allahuakbar semuanya pasti bisa berjalan. Atas dasar ini pulalah makanya para Habib, kiai dan petinggi-petinggi Islam di Jawa sebut saja KH Abdullah Faqih Langitan dari Tuban, DR Alwi Sihab, KH Sofyan Miftah dari Situbondo, KH Idris Marzuki dari Kediri, KH Sholeh Qosim dari Sidoarjo, KH Mas Ahmad Subadar dari Pasuruan bergabung menjadi satu mendirikan PKNU, tujuannya tentu untuk meluruskan apa yang selama ini telah bengkok dan melenceng dari relnya.

Anda yakin kalau partai ini bisa berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah Islam?
200 persen yakin, karena pendiri dan orang-orang yang bergerak dan tergabung di dalamnya memang para kiai yang sudah teruji. Sebenarnya mereka tidak ingin berpolitik, tapi karena dunia perpolitikan kita ini telah kacau balau, sudah sangat parah, makanya beliau-beliu ini turun gunung. Selain itu para ulama ini pun tidak ingin lagi hanya dijadikan daun salam dari pemerintah. Contohnya gini perjaunagan kemerdekaan merupakan perjuangan para ulama, tapi apa, setelah Indonesia merdeka ulama ditinggalkan. Terus saat Indonesia mengalami krisis, pemerintah datang ke para ulama minta didoakan agar Indonesia ini kembali amana damai, tapi begitu semua udah pulih, lagi-lagi ulama ditinggalkan, ini seperti daun salam, saat kita mau masak pertama kali yang kita masukkan adalah daun salam, tapi begitu masakan sudah matang, maka yang pertama sekali dibuang juga daun salam. Maka dari itu para ulama ini bersatu sehingga kedepannya pioner-pioner yang akan bergerak nantinya para ulama.

Banyak partai politik berbasis Islam yang telah punya nama dan bisa dikatakan sukses karena telah mengikuti proses pemilu sebelumnya. Kenapa Anda tidak bergabung saja di salah satu partai itu?
Sulit, karena mereka menggembar-gemborkan keislaman tapi mana buktinya. Ada kadernya di DPRD tapi untuk memperjuangkan perda kehalalan saja tidak bisa, apa lagi yang lain-lain yang sifatnya urjen. Kita tak ingin bergabung dengan partai politik yang seperti itu, karena kita akan menjadi boneka saja, tanpa bisa memperjuangkan hukum islam. Tapi kalau di PKNU beda, karena PKNU satu-satunya partai yang menggunakan sistem down top, jadi pengambilan keputusan sepenuhnya ada di masing-masing tingkat kepemimpinan, bukan dari pusat, tujuannya jelas agar orang yang benar-benar berkompeten dan mampu yang duduk di posisinya. Contoh untuk menentukan walikota, gubernur, anggota DPRD, pada partai-partai lain ditentukan oleh pusat, tapi kalau di PKNU yang berhak menentukan pejabat di masing-masing daerah adalah kepengurusan di tingkat daerah itu, misalnya seperti gubernur, maka yang berhak menentukan adalah PKNU tingkat provinsi, kalau untuk walikota atau bupati maka yang berhak menentukan PKNU tingkat kota dan daerah.

Ulama berpolitik kedengarannya sangat janggal, Apa anda yakin ini akan berjalan?
Nah, ini yang perlu saya tekankan, para ulama di PKNU tidak berpoolitik tapi PKNU akan memainkan politiknya para ulama, sehingga apapun kebijakan yang nantinya dikeluarkan tentunya berdasarkan pertimbangan para ulama dan hukum Islam.

Kalau Anda terpilih menjadi anggota legeslatif apa yang pertama akan anda lakukan?
Tentunya memperjuangkan perda kehalalan, biar ada pemilahan daerah jualan, misalnya di Nagoya daerah jualan yang halal, di Jodoh barang-barang yang haram. Kalau sudah begini, maka umat muslim tidak ragu-ragu lagi dalam berbelanja dan mengkonsumsi makanan yang ia beli.
Karena kalau kita makan makanan yang halal maka tubuh kita sehat, pikiran kita pun tenang, tidak ada lagi keinginan untuk korupsi, tidak ada lagi pikiran untuk mencuri, merampok, menjatuhkan orang lain dan sebaginya, karena pikiran dan hati kita sudah bersih.***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: