BACAAN AWAL PELUANG PKNU

Oleh Salahuddin Wahid *
Setelah melalui proses yang cukup panjang dan sedikit tarik-ulur, akhirnya, dalam pertemuan di Ponpes Langitan (21-11-2006), para kiai sepuh memutuskan untuk mendirikan partai baru sebagai solusi. Partai itu bernama Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) sampai muktamar (direncanakan 2007, setelah verifikasi).

PKNU mengambil asas Islam Ahlussunnah wal Jamaah, sesuai dengan asas Nahdlatul Ulama. DPP PKNU adalah DPP PKB Surabaya yang disempurnakan, diutamakan aktivis atau tokoh Nahdliyin. Mustasyar dilembagakan menjadi Dewan Mustasyar yang mempunyai peran kunci. AD ART PKNU dan lambangnya telah ditetapkan.

Semula saya mendengar bahwa PPNUI di bawah pimpinan KH Syukron Ma’mun akan ikut bergabung secara anbloc ke dalam PKNU, tetapi dalam keputusan yang dibacakan di dalam konferensi pers di Langitan, ternyata tidak ada ketegasan soal itu. Tidak jelas apakah PPNUI akan bergabung atau tidak.
***
Sementara itu, kita melihat langkah politik Saifullah Yusuf yang bermaksud mengajak para kiai melirik PPP yang dia sebut sebagai rumah lama. Dengan keputusan musyawarah 21-11-06 di Langitan, menjadi tanda tanya apakah Saifullah Yusuf akan meneruskan langkahnya itu atau tidak?Langkah Saifullah itu memancing berbagai reaksi yang bersifat pro-kontra. Arbi Sanit menyebut Saiful sebagai kutu loncat. Sebaliknya, Indra Piliang memberikan apresiasi terhadap langkah Saiful itu. Hendardi menggugat Saifullah Yusuf dan Suryadharma Ali yang menghabiskan waktu kerja untuk mengurus partai.

Lepas dari pandangan (positif atau negatif) terhadap langkah Saiful itu, yang merupakan risiko, masyarakat penuh tanda tanya apakah Saiful akan meneruskan langkahnya atau tidak? Kalau diteruskan, apa yang akan diperoleh; dan kalau tidak, apa yang diperoleh? Sebagai politisi, Saiful tentu sudah berhitung akibat yang akan timbul dari langkah yang akan diambilnya.

Pilihan lain baginya ialah bergabung dengan PKB Semarang yang pernah ditinggalkannya, tetapi kemudian dihampirinya lagi walaupun belum resmi dimasukinya. Sebetulnya, saat Saiful dipertahankan dalam KIB saat reshuffle pada Desember 2005, bisa ditafsirkan bahwa dia praktis sudah bergabung dengan PKB Semarang.

Kalau bergabung dengan PKNU atau PPP, tidak jelas dia mewakili partai mana dalam kabinet. Seandainya setelah itu presiden tetap mempertahankannya pada posisi menteri PDT, maka dapat ditafsirkan bahwa presiden menilai kinerja Saiful sebagai menteri PDT bagus atau menilai kekuatan politik Saiful cukup tinggi.

Sungguh suatu capaian yang bagus baginya kalau kita melihat fakta bahwa banyak kritik terhadap Saiful yang dianggap memakai banyak waktunya untuk mengurus partai daripada kementeriannya dan keraguan banyak orang terhadap kinerjanya.

Kalau dia bergabung dengan PPP dan perolehan suara PPP melonjak tinggi, Saiful akan memantapkan namanya di pentas politik nasional. Jadi, bergabung dengan PPP adalah pertaruhan bagi Saiful sehingga tidak seluruhnya benar kalau dia dianggap kutu loncat. Sebab, di sini dia mempertaruhkan masa depannya.

Bagi pengamat yang menilai etika politiknya tinggi, Saiful dipandang oportunis dalam pengertian negatif. Langkah Saiful itu mengikuti naluri politiknya yang memang cukup tinggi dan membuat dia tidak menutup mata terhadap setiap peluang. Di sini oportunis mempunyai pengertian yang lebih positif, yaitu memanfaatkan peluang.
***
Bagaimana peluang PKNU dalam memperoleh suara dalam Pemilu 2009? Tentu diperlukan survei untuk menjawab pertanyaan itu. Ada info bahwa lembaga survei terkenal di Surabaya tengah melakukan survei untuk masalah itu dan akan selesai pada akhir Desember. Kecenderungan yang ada ialah bahwa sebagian besar pemilih PKB masih akan memilih PKB Semarang karena faktor Gus Dur.

Kalau PPNUI tidak jadi bergabung dengan PKNU, maka PKNU akan kehilangan potensi pemilih yang cukup besar (secara nasional sekitar satu juta) yang penyebarannya cukup merata. Kalau Saifullah Yusuf bergabung dengan PPP, tentu akan ada warga PKNU yang ikut ke PPP walau jumlahnya belum pasti.

Saya sudah menyampaikan analisis yang pesimistis itu secara langsung kepada beberapa tokoh PKB kubu muktamar Surabaya dan melalui tulisan di surat kabar. Tetapi, tampaknya, para kiai tidak terlalu peduli. Mereka lebih mengutamakan idealisme memperjuangkan pemikiran politik yang lebih kental keislamannya dibanding PKB. Juga lebih eksklusif NU dibanding PKB dan PPP yang tentu akan lebih membatasi ruang gerak PKNU.

Bagi masyarakat politik, sikap para kiai sepuh PKNU itu sulit dipahami karena mereka memang bukan politisi dan tidak berpikir sebagai politisi. Mereka memang kiai yang yakin bahwa mereka memperjuangkan sesuatu yang benar. Tentu kita paham bahwa sungguh tidak mudah (nyaris mustahil) untuk mempertemukan dunia kiai dengan dunia politik dalam pengertian ideal.

Seandainya PPNUI dan Saifullah Yusuf bergabung dengan PKNU, tentu perolehan suara PKNU bisa lebih besar. Tetapi, masih diperlukan kerja keras dan strategi jitu untuk bisa menjadi partai yang lebih bersifat nasional daripada partai lokal. Kalau batas minimal suara partai ditetapkan menjadi lima persen, beban PKNU tentu akan bertambah besar. Perjuangan itu tentu membutuhkan dana cukup besar.

Walaupun sebagian besar pemilih PKB (2004) akan tetap memilih PKB pada Pemilu 2009, jelas PKB akan mengalami penurunan suara. Kalau pada 2004 perolehan suara PKB menempati peringkat ketiga, pada 2009 mungkin bisa merosot cukup jauh, menjadi peringkat kelima, keenam, atau ketujuh. PPP, PKS, dan Partai Demokrat akan menjadi ancaman.

Jadi, bukan hanya PKNU yang harus bekerja keras, tetapi juga PKB. Walaupun demikian, tetap harus dijaga jangan sampai perpecahan PKB itu merembet sampai ke bawah dalam bentuk kampanye negatif yang akan berdampak buruk kepada kedua partai dan juga bagi NU.
*. KH Salahuddin Wahid, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang


Satu Tanggapan to “BACAAN AWAL PELUANG PKNU”

  1. Kami dari Ikatan Wanita Minang Kota Batam memberikan dukungan sepenuhnya kepada Bapak Suparman selaku ketua DPC PKNU Kota Batam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: